Saat Banjir Waspadai Penyakit Kencing Tikus Leptospirosis

Salah satu penyakit yang harus diwaspadai saat banjir melanda ialah leptospirosis alias penyakit kencing tikus. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri leptospira yang disebarkan lewat hewan. Yang paling banyak menimbulkan kasus wabah di Indonesia adalah lewat air kencing dan kotoran tikus. Saat terjadi banjir, tikus-tikus yang tinggal di liang-liang tanah akan ikut keluar menyelamatkan diri. Tikus tersebut akan berkeliaran di sekitar manusia, sehingga kotoran dan air kencingnya akan bercampur dengan air banjir.

Apabila ada orang yang memiliki luka kemudian terendam air banjir yang sudah tercampur dengan kencing tikus yang mengandung bakteri lepstopira, maka orang tersebut dapat terinfeksi dan akan jatuh sakit. Leptospirosis juga dikenal sebagai demam canicola, demam ladang tebu, dan demam 7-hari. Penyakit ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1886 oleh Adolf Weil sehingga disebut juga sebagai penyakit atau sindrom Weil.

Kuman leptospira dapat hidup di air tawar selama lebih kurang 1 bulan. Bahkan leptospira juga bisa bertahan di tanah yang lembap, tanaman, maupun lumpur dalam waktu lama. Kuman leptospira ini dapat ‘erenang di air sehingga bisa menginfeksi kaki manusia yang sedang terluka. Umumnya laporan orang yang terkena leptospirosis terjadi setelah banjir.

Saat terjadi banjir, tikus-tikus yang tinggal di liang-liang tanah pada keluar menyelamatkan diri. Kotoran dan urinnya masuk ke air banjir, bisa masuk ke makanan dan apabila masuk ke tubuh dan menyerang otak bisa berbahaya. Leptospira juga bisa memapar mereka yang banyak bersentuhan dengan binatang seperti peternak, petani, dan dokter hewan. Petugas pembersih selokan juga memiliki risiko terpapar leptospitosis. Selain tikus, hewan yang berpotensi menularkan penyakit ini adalah kucing, kuda, kelelawar, babi, kambing, domba, dan tupai.