Penderita Insomnia Lebih Cepat Meninggal

Sebuah penelitian baru di Finlandia menunjukkan bahwa kasus sulit tidur bisa jadi menurun dan penderita insomnia lebih mungkin untuk meninggal lebih cepat dibandingkan orang dengan pola tidur yang sehat. Menurut laporan media Finlandia, penelitian tersebut adalah yang pertama yang mengaitkan insomnia dengan risiko kematian.

Dalam studi terhadap orang kembar yang berskala luas, para peneliti Finlandia mengikuti status kesehatan 12.500 pasangan kembar dewasa selama 1990 sampai 2009. Sebanyak 20 persen peserta menderita gejala kurang tidur, termasuk kesulitan untuk mulai tidur, terbangun pada larut malam dan tidur yang tidak mengembalikan stamina tubuh. Dibandingkan dengan orang kembali yang tidak identik, orang kembar identik lebih mungkin untuk menderita gejala insomnia yang sama.

Temuan tersebut menunjukkan faktor genetika memainkan peran dalam pembentukan insomnia. Selain itu, para peserta tersebut dibagi jadi tiga kelompok, menurut kualitas tidur mereka. Di antara semua peserta, 48 persen adalah orang yang tidur dengan baik, 40 persen tidur rata-rata dan 12 persen orang yang tidur dengan buruk. Hasil penelitian itu memperlihatkan gejala yang berkaitan dengan insomnia mungkin meningkatkan risiko kematian.

Sementara itu dibandingkan dengan orang yang tidur dengan baik, tujuh persen perempuan dan 22 persen lelaki yang tidur rata lebih mungkin untuk meninggal lebih cepat; dan orang tidur dengan buruk 1,5 kali lebih mungkin untuk meninggal lebih cepat.

Menurut para peneliti tersebut, kekurangan tidur ialah masalah kesehatan umum di kalangan kelompok usia kerja. Kekurangan tidur kronis meningkatkan risiko banyak kecelakaan dan penyakit, sehingga memperlemah kualitas hidup orang dan kemampuan untuk bekerja secara layak. Para ahli tersebut menyatakan penderita insomnia mesti berusaha memperoleh perawatan medis tepat pada waktunya, dan pasien insomnia kronis mesti dirawat dengan cara lebih baik dengan terapi tanpa obat.