Hubungan Mendengkur dan Depresi

Sleep apnea adalah henti nafas saat tidur yang ditandai dengan mendengkur dan kantuk berlebihan. Penderitanya mengalami penyempitan saluran nafas atas, hingga tak ada aliran udara yang dapat lewat. Karena sesak, secara refleks otak akan terbangun sejenak, untuk mengambil nafas dan selanjutnya langsung tertidur kembali. Penderita bahkan tak tahu jika dirinya terbangun-bangun sepanjang malam. Akibatnya, ia akan bangun tak segar dan terus mengantuk sepanjang hari.

Berbagai penelitian telah menggali secara mendalam hubungan mendengkur dengan penyakit-penyakit berbahaya seperti hipertensi, penyakit jantung dan stroke. Tetapi baru-baru ini the Centers for Disease control and Prevention (CDC), melaporkan adanya hubungan antara sleep apnea dan depresi.

Hasil survei, orang-orang dengan gejala sleep apnea, juga mengeluhkan gejala-gejala yang mengarah pada depresi. Persisnya, depresi dilaporkan dua kali lipat lebih banyak pada pria dengan sleep apnea dibandingkan yang tidak mendengkur. Sementara pada wanita dilaporkan mencapai lima kali lipat. Yang menarik, survei ini juga menunjukkan bahwa pasangan yang menyaksikan episode henti nafas dari pendengkur, lebih rentan terkena depresi. Seiring dengan semakin meningkatnya frekuensi henti nafas, keluhan akan gejala depresi juga semakin meningkat.

Mekanisme terjadinya depresi pada penderita sleep apnea belum diketahui pasti. Sementara, diduga proses tidur yang terpotong-potong menjadi penyebab. Penjelasannya mudah saja. Penderita sleep apnea mempunyai kualitas tidur yang buruk, sehingga walau tidur cukup ia bangun masih dengan rasa tak segar seolah hanya tidur 2-3 jam saja.

Bayangkan jika orang normal hanya tidur 2-3 jam semalam, rasanya tentu sudah emosional dan tak nyaman. Bagaimana jika setiap hari, sepanjang tahun mengalami ini Para ahli kesehatan jiwa, sudah lama mengetahui hubungan antara insomnia dengan depresi. Tetapi penelitian tentang hubungan antara mendengkur, sleep apnea dan depresi masih dalam bentuk penelitian awal. Masih banyak yang harus digali. Padahal bukti nyatanya semakin banyak dijumpai. Untuk itu masih diperlukan penelitian-penelitian lanjutan yang lebih terperinci.