Hidden Hunger, Masalah Gizi Buruk yang Tersembunyi

Di balik ancaman gizi buruk, Indonesia di satu sisi juga memiliki masalah kelebihan gizi. Selain dua masalah tersebut, ada juga masalah yang juga perlu diwaspadai, yaitu hidden hunger. Hidden Hunger adalah bentuk kekurangan gizi mikro berupa defisiensi zat besi, yodium, asam folat, vitamin A dan beberapa jenis vitamin B yang tersembunyi. Dari luar tidak menampakkan gejala, tapi sebenarnya penderitanya jadi gampang sakit. Hidden hunger biasa disebut kelaparan tersembunyi.

Kondisi ini disebabkan karena rendahnya asupan zat gizi mikro. Hal ini merupakan salah satu pemicu tingginya angka kematian ibu dan anak, penyakit akibat infeksi, rendahnya kecerdasan anak serta dapat menurunkan produktivitas kerja. Pada ibu hamil, dampak dari hidden hunger bisa menurun kepada anaknya. Ibu yang kekurangan gizi bisa mengalami anemia dan melahirkan anak yang berisiko tinggi mengalami kekurangan gizi dan terhambat pertumbuhannya atau stunting.

Masalah asupan gizi masyarakat sangat terkait ketahanan pangan di tingkat rumah tangga dengan pengaruh beberapa faktor: pola asuh, kondisi tubuh, dan tingkat ekonomi. Untuk pola asuh, berkait dengan nilai budaya, preferensi, dan nilai keluarga. Hal-hal ini meliputi: pemberian ASI/MPASI, pola asuh psikososial, penyediaan makanan sapihan, praktik higienitas, serta sanitasi makanan dan lingkungan.

Sementara untuk kondisi tubuh atau kerentanan terhadap penyakit infeksi. Untuk tingkat ekonomi, tingkat kemiskinan masyarakat juga berpengaruh terhadap pemenuhan gizi masyarakatnya, termasuk informasi mengenai pemenuhan gizi keluarga. Pemenuhan gizi keluarga, khususnya anak bangsa butuh peranan dari berbagai pihak, mulai dari orangtua, sekolah, hingga pemerintah, jelas Ahmad. Terutama pemerintah dalam penyebaran informasi mengenai pemenuhan gizi yang baik kepada masyarakat.

Di Indonesia sendiri, angka stunting masih terhitung tinggi, yaitu sekitar 36% dari seluruh anak Indonesia. Anak yang mengalami stunting terancam mengalami gizi buruk. Tapi jika diberi banyak makanan, ia berisiko mengalami obesitas yang dapat memicu penyakt berbahaya seperti penyakit jantung, diabetes melitus, stroke dan hipertensi. Kuncinya adalah memakan makanan yang beragam dan bergizi seimbang, terutama dari bahan nabati.