Cara Terapi Pengobatan Dan Penyembuhan HNP (Herniated Nucleus Pulposus)

Hernia Nukleus Polposus atau HNP sering dalam istilah kedokteran disebut Disk bulging, terjadi karena adanya penyempitan diantara tulang belakang sehingga terjadi penonjolan nukleus dan kemudian akan menekan saraf sehingga terjadi nyeri atau pegal, keluhan awal akan terjadi nyeri pada Lumbal atau pinggang menyebar sampai ke kaki bahkan akan terjadi Paresthesia atau kesemutan hingga kekaki pada area dermatome L5-S1. Saat posisi duduk lama, jongkok atau gerak fleksi lumbale (membungkuk) akan meningkatkan nyeri dan paresthesia dan tanda yang paling jelas apabila batuk atau bersin nyeri sangat terasa.

Suatu kondisi keluarnya nukleus pulposus (bantalan Tulang belakang) dan menekan syaraf dibelakangnya. tergantung dari dimana dan seberapa jauh dia menekan, akan memberikan efek sakit yang berbeda Karena penyebab umum HNP adalah bantalan yang menonjol..tentunya untuk menghilangkan rasa sakit karena tonjolan adalah dengan cara menghilangkan tonjolan tersebut dengan operasi untuk penonjolan yang sangat parah.

Nyeri pinggang merupakan salah satu keluhan yang sering dijumpai di masyarakat. Penelitian menyebutkan bahwa setiap manusia pernah mengalami nyeri pada pinggang suatu kali dalam masa hidupnya. Hal ini pastilah sangat mengganggu, bukan hanya menimbulkan rasa tidak nyaman atau sakit, tapi juga menghambat produktifitas di kehidupan sehari-hari.

Banyak sekali penyebab nyeri pinggang pada manusia. Bisa karena infeksi pada otot atau tulang belakang, trauma atau benturan yang hebat pada pinggang, kelainan pada tulang belakang, dll. Salah satu yang sukup sering adalah yang dinamakan Herniated Nucleus Pulposus (HNP).

Penyebab HNP ini berbagai macam. Faktor risikonya antara lain adalah merokok, batuk yang terlalu lama, cara duduk yang salah, menyetir yang terlalu sering, cara mengangkat barang yang salah, dll. Seiring dengan bertambahnya usia, kemampuan cakram untuk menjalankan fungsinya juga menurun. Faktor-faktor diatas dapat menyebabkan terjadinya herniasi, yaitu keluarnya suatu organ melalui suatu celah dalam tubuh.

HNP dapat dianalogikan seperti terjadinya “turun bero”, tetapi terjadi pada daerah tulang belakang. Terjadi penonjolan kebelakang pada cakram yang bawah. Penonjolan ini kemudian menekan saraf yang berjalan dibelakang. Penekanan inilah yang menimbulkan keluhan. Keluhannya dapat berbagai macam dari nyeri pinggang, kesemutan di tungkai, hingga sakit yang luar biasa pada tungkai hingga berjalanpun sakit sekali. Penanganan dari penyakit ini dapat secara non-operatif, yang terdiri dari obat-obatan dan fisioterapi, atau dengan tindakan operatif.

HNP ditandai dengan nyeri yang bersifat menusuk tajam seperti ‘nyeri gigi’ pada bagian bawah pinggang yang menjalar ke lipatan bokong, tepat di pertengahan garis tersebut. Dari titik ersebut sampai ke lipatan lutut terasa ‘ngilu’, sementara dari lutut menuju jari kaki ke 4 atau 5 penderita merasa ‘kurang enak’, atau kesemutan. Nyeri tersebut umumnya dirasakan pada sebelah kaki.

Gejala
a. Gejala (di pinggang)
- Kesemutan (numbness) di kaki
- Otot paha dan kaki menjadi lemah
- Rasa nyeri yang sangat hebat di pinggang yang menjalar menuju tumit mengikuti alur syaraf. Gejala ini disebut Sciatica.
- Lumpuh, apabila terkena syaraf utama.

b. Gejala (leher)
- Kesemutan di lengan
- Otot lengan dan tangan menjadi lemah
- Nyeri leher, terutama di belakang dan samping
- Rasa nyeri menjalar ke bahu, lengan, tangan dan jari-jari.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya HNP, diantaranya: karena trauma (jatuh, terbentur, gerakan yang tiba-tiba cepat, dll), sering mengangkat beban atau mengangkat tekanan yang berlebihan, merokok, batuk yang lama dan terus menerus, tekanan pada tulang belakang, sering menyetir dalam waktu yang lama, berat badan berlebihan, gaya hidup yang bermalas-malasan, sikap duduk yang salah, dan usia lanjut.

Pria dan wanita memiliki resiko yang sama dalam mengalami HNP  dan rata-rata penderita HNP berusia antara usia 30 sampai 50 tahun. Biasanya bagian tulang belakang yang paling sering terkena HNP adalah pinggang (lumbal). Meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan HNP terjadi di tulang belakang leher atau dada.

Beberapa cara yang dapat digunakan adalah mengontrol berat badan sehingga tekanan pada tulang belakang tidak berat, juga duduk dengan sikap tubuh yang benar.

Bagi orang yang sering mengangkat barang berat, kadang dapat digunakan korset untuk membantu menopang tulang belakang & mencegah terjadinya kerusakan saraf.

HNP (Herniated Nucleus Pulposus)

Rokayah (39 Tahun)
“Terhindar Dari Kelumpuhan”

Tahitian Noni ® Bioactive Beverage Original ™ Solusi Herbal Alami“Sudah, Yah. Cari saja pengganti saya untuk jadi ibu anak-anak.” Kalimat itu terlontar dari bibir Rokayah pada suaminya, sekitar Maret 2009. Saat itu, ia sedang putus asa karena kondisi kesehatannya. Sebenarnya sudah sejak Oktober 2008 Rokayah merasa kakinya linu. Tapi ia tak menyangka gejala ini serius.

Menginjak Desember 2008, sakit kakinya semakin parah. Dari pinggang sampai kaki terasa sakit Ia tak sanggup berjalan lama. Rasa sakit ini memang tidak terus-menerus, tapi ketika sakitnya menyerang, Rokoyah merasa amat nyeri, bahkan sampai menggigil. Akhir Desember, ia drop. Ia tak kuat lagi berjalan dan harus dipapah.

Awalnya menurut dokter, Rokoyah menderita rematik. Namun ketika di-rontgen, tak terlihat kelainan apa pun. Rokoyah mencoba menjalani terapi alternatif berupa pijat syaraf. Terapi rupanya cukup membantu. Januari 2009, ia merasa kondisinya membaik. Namun bulan depannya, Rokoyah terserang batu hebat yang tak kunjung hilang. Kondisinya kembali drop. Atas saran dokter spesialis syaraf, ia melakukan pemeriksaan MRI. Dari sinilah Rokoyah mengetahu ia menderita HNP. Ada cairan di tulang pinggangnya.

Menurut dokter, itu virus yang harus segera disedot keluar. jika ditunda-tunda, virus itu bisa naik ketubuh bagian atas, bahkan menyebabkan kelumpuhan. Hari itu juga, ia harus masuk rumah sakit dan besoknya menjalani operasi. Rokoyah pun menimbang-nimbang. Mengambil keputusan untuk operasi sama sekali tak mudah, karena jika gagal, operasi beresiko kelumpuhan. “Sudahlah, saya dirawat dirumah saja. Tak usah dioperasi kalau resikonya terlalu besar. Setiap penyakit ada obatnya. Tuhan pasti akan memberikan obat itu,” kata Rokoyah membesarkan hati.

Obat yang ditunggu Rokoyah akhrinya datang pada April 2009. Suami Rokoyah bertemu dengan dua orang teman -Slamet dan Ahmad-. Kata mereka banyak prang sembuh berkat TNBB. Awalnya, Rokoyah tak percaya. Ia sudah habis berjuta-juta untuk obat dan terapi alternatif. Masa TNBB seharga 500 ribu mampu menyembuhkannya? Namun Rokoyah tergerak mencoba. Ia mulai mengonsumsi TNBB tiga kali sehari, masing-masing setengah gelas.

Enam hari kemudian, ia justru merasa sakitnya bertambah parah. Ia nyaris tak mau melanjutkan konsumsi TNBB tapi untunglah ia berubah pikiran. Pada hari kesepuluh, ia bisa turun dari tempat tidur dan berjalan sendiri ke toilet, meskipun belum bisa duduk. Secara bertahap, ia bisa mengangkat kaki dan memakai celana sendiri. Padahal, dulu kedua hal ini mustahil di lakukannya.

Pada bulan mei 2009, Rokoyah sudah normal kembali. Ia kuat berjalan dan mulai menjalankan aktivitas sebagai guru SD. Jika terlalu lelah, kakinya kembali linu. Namun Rokoyah konsisten meminum TNBB.

Setahun kemudian, ia merasa tubuhnya sangat fit. Selain itu, sakit kepala yang dulu sering menyrerangnya ikut lenyap. Hingga kini, untuk mempertahankan kondisi, ia tetap mengonsumsi TNBB sekali sehari, 30 ml.